Posted by: sherlockh30 | December 20, 2008

Asal Usul Nama Daerah di Jakarta

Berikut ini adalah artikel tentang asal usulnye nama2 daerah di Jakarte yg aku ambil dari imelku di kantor.

Menarik juga🙂 Well enjoy it Bloggy…

Sejarah Asal Mula Nama Daerah Glodok, Kwitang & Menteng, dan
Senayan Jakarta

Kota Jakarta adalah jantung ibukota dari negara Republik
Indonesia di mana pusat perekonomian beserta berjuta
permasalahannya ada di kota kecil padat penduduk ini. Di
balik nama beberapa daerah di Jakarta tersimpan kisah, cerita
dan sejarah dari mana nama itu muncul.

Berikut di bawah ini adalah beberapa asal-muasal nama daerah
terkenal di DKI

Jakarta :

A. Glodok

Asalnya dari kata grojok yang merupakan sebutan dari bunyi air
yang jatuh dari pancuran air. Di tempat itu dahulu kala ada
semacam waduk penampungan air kali ciliwung. Orang tionghoa
dan keturunan tionghoa menyebut grojok sebagai glodok karena
orang tionghoa sulit mengucap kata grojok seperti layaknya
orang pribumi.

B. Kwitang

Dulu di wilayah tersebut sebagian tanah dikuasai dan dimiliki
oleh tuan tanah yang sangat kaya raya sekali bernama Kwik
Tang Kiam. Orang Betawi jaman dulu menyebut daerah itu
sebagai kampung si kwi tang dan akhirnya lama-lama tempat
tersebut dinamai kwitang.

C. Senayan

Dulu daerah senayan adalah milik seseorang yang bernama
wangsanaya yang berasal dari Bali. Tanah tersebut disebut
orang-orang dengan sebutan wangsanayan yang berarti tanah
tempat tinggal atan tanah milik wangsanaya. Lambat laun
akhirnya orang menyingkat nama wangsanayan menjadi senayan.

D. Menteng

Daerah Menteng Jakarta Pusat pada zaman dahulu kala merupakan
hutan yang banyak pohon buah-buahan. Karena banyak pohon buah
menteng orang menyebut wilayah tersebut dengan nama kampung
menteng. Setelah tanah itu dibeli oleh Pemerintah Belanda
pada tahun 1912 sebagai lokasi perumahan pegawai pemerintah
Hindia Belanda maka daerah itu disebut menteng.

Adalagi….

1. Karet Tengsin

Nama daerah yang kini termasuk kawasan segitiga emas kuningan
ini berasal dari nama orang cina yang kaya raya dan baik
hati. Orang itu bernama Tan Teng Sien. Karena baik hati dan
selalu memberi bantuan kepada orang-orang sekitar kampung,
maka Teng Sien cepat dikenal oleh masyarakat sekitar dan
selalu menyebut daerah itu sebagai daerah Teng Sien. Karena
pada waktu itu banyak pohon karet, maka daerah itu dikenal
dengan nama Karet Tengsin.

2. Kebayoran

Kebayoran berasal dari kata kebayuran, yang artinya “tempat
penimbunan kayu bayur”. Kayu bayur yang sangat baik untuk
dijadikan kayu bangunan karena kekuatanya serta tahan
terhadap rayap.

3. Lebak Bulus

Daerah yang terkenal dengan stadion dan terminalnya diambil
dari kata “lebak” yang artinya lembah dan “bulus” yang
berarti kura-kura. Jadi lebak bulus dapat disamakan dengan
lembah kura-kura. Kawasan ini memang kontur tanahnya tidak
rata seperti lembah dan di kali Grogol dan kali Pesanggrahan-

dua kali yang mengalir di daerah tersebut-memang terdapat
banyak sekali kura-kura alias bulus.

4. Kebagusan

Nama kebagusan-daerah yang menjadi tempat hunian mantan
presiden
megawati-berasal dari nama seorang gadis jelita, Tubagus Letak
Lenang. Konon, kecantikan gadis keturunan kesultanan banten
ini membuat banyak pemuda ingin meminangnya. Agar tidak
mengecewakan hati pemuda itu,ia akhirnya memilih bunuh diri.
Sampai sekarang makam itu masih ada dan dikenal

dengan nama ibu Bagus.

5. Ragunan

Berasal dari Wiraguna, yaitu gelaran yang di sandang tuan
tanah pertama kawasan tersebut berna Hendrik Lucaasz Cardeel,
yang diperolhnya dari sultan

banten Abunasar Abdul Qahar, putra Sultan Ageng Tirtayasa.

6. Pasar Rumput

Dulu, tempat ini merupakan tempat berkumpulnya para pedagang
pribumi yang menjual rumput. Para pedagang rumput terpaksa
mangkal dilokasi ini karena mereka tidak diperbolehkan masuk
ke permukiman elit menteng. Saat itu, sado adalah sarana
transportasi bagi orang-orang kaya sehingga hampir sebagian
besar penduduk menteng memelihara kuda.

7. Paal Meriam

Asal usul nama daerah yang berada diperempatan Matraman dengan
jatinegara ini berasal dari suatu peristiwa sejarah yang
terjadi sekitar tahun 1813. Pada waktu itu pasukan artileri
meriam inggris yang akan menyerang batavia, mengambil daerah
itu untuk meletakan meriam yang sudah siap ditembakan.
Peristiwa tersebut sangat mengesankan bagi masyarakay sekitar
dan menyebut nama daerah ini paal meriam (tempat meriam
disiapkan)

8. Cawang

Duku, ketika belanda berkuasa, ada seorang letnan melayu yang
mengabdi pada kompeni, bernama Ende Awang. Letnan ini bersama
anak buahnya bermukim di kawasan yang tak jauh dari
jatinegara. Lama kelamaan sebutan Ence Awang berubah menjadi
Cawang.

9. Pondok Gede

Sekitar Tahun1775, Lokasi ini merupakan lahan pertanian dan
peternakan yang disebut dengan onderneming. Di sana terdapat
sebuah rumah yang sangat besar milik tuan tanah yang bernama
Johannes Hoojiman. Karena Merupakan satu-satunya bangunan
besar yang ada dilokasi tersebut, banguna itu sangat
terkenal. Masyarakat pribumi pun menjulukinya “Pondok Gede”

10. Condet Batu Ampar dan Balekambang

Pada jaman dahulu ada sepasang suami istri, namanya pangeran
geger dan nyai polong, memiliki beberapa orang anak. Salah
satu anaknya, perempuan, di beri

nama Siti Maemunah, terkenal sangat cantik. Pangeran Astawana,
anak pangeran

Tenggara atau Tonggara asal makassar pun tertarik melamarnya.

Siti Maemunah meminta dibangunkan sebuah rumah dan tempat
peristirahatan diatas empang, dekat kali ciliwung, yang harus
selesai dalam satu malam. Permintaan itu disanggupi dan
menurut legenda, esok harinya sudah tersedia rumah dan sebuah
bale disebuah empang dipinggir kali ciliwung. Untuk
menghubungkan rumah itu dengan kediaman keluarga pangeran
tenggara , dibuat jalan yang diampari (dilapisi) Batu.

Demikian menurut cerita, tempat yang dilalui jalan yang
diampari batu itu selanjutnya disebut batu ampar, dan bale
(balai) peristirahatan yang seolah-olah mengambang di atas
air itu di sebut Balekambang.

Buncit : dulunya di jalan buncit raya sekarang ada pedagang
kelontong China berperut gendut (Buncit) yg terkenal.

Bangka : dulunya disana banyak ditemukan mayat
(bangke/bangkai) orang yg dibuang di kali krukut.

Cilandak : konon di sana pernah ditemukan seekor landak
raksasa

Tegal Parang : di sana banyak ditemukan alang2 tinggi
(tegalan) yg di potong

dgn parang(golok) .

Blok A/M/S : dulunya sekitar situ tempat pembukaan perumahan
baru yg ditandai dgn blok, mulai A-S. Sayang yg tersisa
tinggal 3 blok doang.

Kampung Ambon.

Berlokasi di Rawamangun, Jakarta Timur, nama Kampung

Ambon sudah ada sejak tahun 1619. Pada waktu itu JP Coen
sebagai

Gubernur Jenderal VOC menghadapi persaingan dagang dengan
Inggris.

Untuk memperkuat angkatan perang VOC, Coen pergi ke Ambon lalu

merekrut masyarakat Ambon untuk dijadikan tentara. Pasukan
dari

Ambon yang dibawa Coen itu kemudian diberikan pemukiman di
daerah

Rawamangun, Jakarta Timur. Sejak itulah pemukiman tersebut
dinamakan

Kampung Ambon.

Sunda Kelapa.

Sunda Kelapa merupakan sebutan sebuah pelabuhan di

teluk Jakarta. Nama kelapa diambil dari berita yang terdapat
dalam

tulisan perjalanan Tome Pires pada tahun 1513 yang berjudul
Suma

Oriental. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa nama pelabuhan
itu

adalah Kelapa. Karena pada waktu itu wilayah ini berada di
bawah

kekuasaan kerajaan Sunda maka kemudian pelabuhan ini disebut
Sunda

Kelapa.

Pondok Gede.

Sekitar tahun 1775 daerah Pondok Gede merupakan lahan

pertanian dan peternakan yang disebut onderneming. Di daerah

pertanian dan peternakan milik tuan tanah bernama Johannes
Hoojman

yang kaya raya itu terdapat sebuah Landhuis, atau rumah besar
tempat

tinggal dan sekaligus tempat pengurus usaha pertanian dan

peternakan. Karena besarnya bangunan Landhuis itu, masyarakat

pribumi sering menyebutnya Pondok Gede.

Pasar Senen.

Pasar Senen pertama kali dibangun oleh Justinus Vinck.

Orang-orang Belanda menyebut pasar ini dengan sebutan
Vinckpasser

(pasar Vinck). Tetapi karena hari pada awalnya Vinckpasser
dibuka

hanya pada hari Senin, maka pasar itu disebut juga Pasar Senen

(disesuaikan dengan kebiasaan orang-orang yang lebih sering
menyebut

Senen ketimbang Senin). Namun seiring kemajuan dan pasar Senen

semakin ramai, maka sejak tahun l766 pasar ini pun buka pada
hari-

hari lain.

Taman Anggrek berawal dr keinginan bu Tien untuk mengambil
kebon anggrek milik juragan tanah sunda bernama Rasman, yg di
kenal orang2 skitar dgn nama

H. Rasman karna dia memiliki tanah ber-hektar2 di Cipete. Jadi
bu Tien mengambil bunga2 anggrek tersebut dgn niat membeli
(tapi namun tidak di bayar) yg akhirnya di pindahkan ke
daerah jakarta barat situh yg skrg jd Mall Taman Anggrek.

Kmudian di pindahkhan lagi ke yg skrg smua orang ketahui ada
di Taman Mini Indonesia Indah.

Walopun bunga2 anggreknya dah gak ada, namun Jl Kebon Anggrek
masih ada jg sampe skrg. Lokasinya di cipete (sbrang SMA
Cendrawasih)

Grogol.

Grogol berasal dari bahasa Sunda (g a r o g o l) yang artinya
perangkap terdiri dari tombak-tombak yang digunakan untuk
menangkap hewan liar yang banyak terdapat di hutan. Nama
Garogol dipasang sebagai nama sebuah desa di Limo Depok.

Dahulu kawasan ini memang masih hutan liwang-liwung yang kata
pak dalang “jalma mara-jalma mati” alias menyeramkan. Sudah
barang tentu di kawasan ini

banyak terdapat hewan liar dan buas sehingga penduduk setempat
memburunya dengan memasang perangkap (garogol). Hewan yang
masuk ke perangkap mirip ciptaan “geek” alias soldadu Vietnam
dijamin akan mati tertembus ujung tombak yang menganga
didasar lubang. Tapi belum jelas apakah jaman dulu ada
keresahan masyarakat bahwa kambing mereka pada tewas karena
darahnya dihisap

oleh “mahluk misterius” yang sekarang kian marak di Depok.

Konsekwensinya kali yang melewati desa ini juga dinamai kali
Garogol. Penduduk Betawi yang main gampang saja, setiap ada
desa dilalui kali ini langsung di beri stempel desa Grogol,
kampung Grogol.

Repotnya pada peta keluaran tahun 1903, ada kampung bernama
Grogol di kawasan Pal Merah. Dari Pal Merah, kali Grogol
meliwati Taman Anggrek untuk menuju ke kawasan Pluit (jalan
Latumeten) dan tiba pada satu daerah yang kini disebut
Grogol- Negeri Tanah Tumpah Darah Anak Beta. Kalau yang
memberi

nama orang jaman sekarang bisa-bisa namanya “Grogol
Perjuangan.”

Pada 1928, sebagian Kali Grogol diuruk oleh Kumpeni. Pasalnya
volume air yang mengalir di banding kapasitas kali sering
tidak memadai. Dan ini bisa mengancam kehidupan kastil
sehingga harus dialirkan keluar kawasan kastil.

Pada 1950-an kawasan Grogol menjadi populer. Karena tercatat
terlanggar banjir bandang yang merendam kelurahan ini. Untuk
pengendalian banjir di bangun pula waduk Grogol yang letaknya
di jalan dr. Semeru (Sumeru) sekarang

ini.. Di tengah waduk ada air muncrat yang memang agak indah
tetapi meresahkan masyarakat. Pasalnya air yang muncrat tadi
kualitasnya kurang bagus sering ketika butiran air yang
menjulang tinggi lalu di tiup angin pantai, maka banyak baju
penduduk yang sedang dijemur tiba-tiba saja diberi tambahan
noda kuning dan berbau got. Bertepatan dengan alat pompa yang
sering ngadat, maka pemandangan air muncrat sudah nyaris tidak

dipertunjukkan.

Soal nama jalan juga unik. Nama jalan disini mengambil nama
pahlawan seperti

Latumeten, Sumeru, Mawardi, Susilo. Semeru adalah nama dari
Dokter Sumeru salah satu tokoh pejuang bangsa Indonesia,
disamping nama Dokter Mawardi, Dr. Susilo. Lalu lidah Jawa
mulai mengubahnya menjadi Semeru dan seperti keahlian bangsa
ini, nama inipun di utak-atik lagi sehingga menjadi suatu
statement bahwa S(u)meru adalah nama Gunung. Nama dokter
Mawardi cuma kepleset sedikit menjadi dr. Muwardi.

Banyak surat pos datang kepada saya dengan alamat Jalan Gunung
Semeru, Grogol (dulu). Untung saja pak pos paham akan
kesalahan dimana lokasi daerah

dengan Kode Pos 11400 (ini pentingnya menulis Kode Pos dalam
setiap surat, kalau terjadi kebingungan nama bisa merujuk ke
kode pos).

Tahun 1960, Grogol menjadi ngetop lagi sekalipun rada minir,
sebab disana di

bangun Rumah Sakit Jiwa sehingga konotasi “dasar Orang Grogol”
sering berarti orang yang kurang satu strip lantaran kabel
hijau (masa) di otaknya ada yang lepas.

Pada 1970, nama Grogol kembali menjadi buah bibir pembicaraan
orang karena dibangun Terminal Bis yang besar di sana.
Belakangan terminal yang sangat ramai ini di pindahkan ke
KaliDeres yang bisnya sering menyingkat plang trayek sebagai
“X-deres”. Sekali tempo ada orang mendapat kecelakaan dijalan

raya sehingga napasnya sudah tinggal satu-satu saat dibawa ke
RS Sumber Waras. Karena tidak ada keluarga yang menunggunya,
seorang suster membisikkan kata “nyebut Bang” – sebuah
tradisi untuk melafalkan nama Tuhan ketika seseorang dalam
keadaan koma. Si abang nampaknya mengerti, mulutnya lirih
menyebut sesuatu sebelum meninggal “g a r o g o l, g a r o g o
l” – Kernet bis rupanya dia.

Utan Kayu

dulunya memang berbentuk hutan disamping basis prajurit
Mataram mau menyerang Batavia. Hutan ini sumber kayu dari
perumahan-perumahan maupun perkampungan para pengepung
batavia maupun benteng belanda jaman dulu. Saking lebatnya
hutan ini yang disertai rawa-rawa kemudian saat pembangunan
daerah ini, mulai disebut Hutan Kayu yang kemudian
dipersingkat menjadi Utan

Kayu. Sisa kejayaan dari hutan ini masih dirasakan hingga saat
ini dimana kawasan ini masih cukup hijau dan sejuk meski
bukan termasuk dalam kawasan mewah seperti halnya Menteng.

Rawamangun

Melanjutkan cerita mengenai Utan Kayu, hutan yang sangat lebat
disertai yang

didalamnya terdapat banyak rawa-rawa yang kemudian setelah
masa perang dengan mataram selesai dan perluasan kota
batavia, mulai diterabas untuk pembangunan wilayah perumahan.
Struktur tanah yang sifatnya rawa-rawa asalnya, membuat
banyak pembangunan yang menggunakan pondasi ekstra dalam
untuk wilayah ini, dan seperti halnya sifat rawa-rawa yang
selalu berada ditengah hutan dan mirip halnya daerah Utan
Kayu, Rawamangun juga masih relatif lebih hijau.

Hek

Tempat yang terletak antara Kantor Kecamatan Kramatjati dan
kantor Polisi Resor Kramatjati, sekitar persimpangan dari
jalan Raya Bogor ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) terus
ke Pondokgede, dikenal dengan nama Hek.

Rupanya, nama tersebut berasal dari bahasa Belanda. Menurut
Kamus Umum Bahasa Belanda – Indonesia (Wojowasito 1978:269),
kata hek berarti pagar. Tetapi menurut Verklarend
Handwoordenboek der Nederlandse Taal (Koenen- Endpols,
1946:388), kata hek dapat juga berarti pintu pagar (“..raam-of
traliewerk.” ). Dari seorang penduduk setempat yang sudah
berumur lanjut, diperoleh keterangan, bahwa di tempat itu
dahulu memang ada pintu pagar, terbuat dari kayu bulat, ujung
– ujungnya diruncingkan, berengsel besi besar – besar, bercat
hitam. Pintu itu digunakan sebagai jalan keluar – masuk
kompleks peternakan sapi, yang sekelilingnya berpagar kayu
bulat. Kompleks peternakan sapi itu dewasa ini menjadi
kompleks Pemadam Kebakaran dan Kompleks polisi Resort
Keramatjati. Sampai tahun tujuh puluhan kompleks tersebut
masih biasa disebut budreh, ucapan penduduk umum untuk kata
boerderij, yang berarti kompleks
pertanian dan atau peternakan.

Kompleks peternakan tersebut merupakan salah satu bagian dari
Tanah Partikelir Tanjoeng Oost, yang pada masa sebelum Perang
Dunia Kedua terkenal

akan hasil peternakannya, terutama susu segar untuk konsumsi
orang – orang Belanda di Batavia. (Sumber: De Haan 1935: Van
Diesen 1989).

Jalan Cengkeh

Jalan Cengkeh terletak di Kota Tua Jakarta sebelah utara
Kantor Pos, di samping sebelah timur Pasar Pisang.

Dahulu jaman penjajahan Belanda, Jalan itu bernama
Princenstraat, tetapi umum juga disebut Jalan Batutumbuh,
mungkin karena disana terdapat batu bertulis. Kawasan sekitar
batu prasasti Purnawarman, di Tugu juga biasa disebut Kampung
Batutumbuh.

Pada tahun 1918, di dekat tikungan Jalan Cengkeh ke Jalan
Kalibesar Timur, yang waktu itu bernama Groenestraat,
ditemukan batu bertulis peninggalan orang – orang Portugis,
yang biasa disebut padrao. Padrao itu dipancangkan oleh orang
– orang Portugis, menandai tempat akan dibangun sebuah
benteng, sesuai dengan perjanjian yang dibuat antara Raja
Sunda dengan perutusan Portugis yang dipimpin oleh Henriquez
de Lemme, yang menurut Sukamto ditandatangani pada tanggal 21
Agustus 1522. Batu bertulis itu diberi ukiran

berupa lencana. Raja Immanuel. Rupanya de Leme beserta
rombongannya belum mengetahui bahwa raja Portugal tersebut
telah meninggal tanggal 31 Desember 1521.

Dalam perjanjian tersebut disepakati bahwa Portugis akan
mendirikan benteng di Banten dan Kalapa. Untuk itu tiap kapal
Portugis yang datang akan diberi muatan lada yang harus
ditukar dengan barang – barang keperluan yang diminta

oleh pihak Sunda. Mulai saat benteng dibangun pihak Sunda akan
menyerahkan 1.000 karung lada tiap tahun untuk ditukarkan
dengan barang – barang yang dibutuhkan (Sumber: Hageman 1867:
Soekamto 1956: Danasasmita 1983)

Japat

Japat terletak di sebelah tenggara Pelabuhan Sunda Kalapa,
termasuk wilayah Kelurahan Ancol Utara, Kecamatan Pademangan,
Jakarta Utara.

Nama kawasan tersebut berasal dari kata jaagpad. Ada yang
mengatakan, kata jaagpad berarti “Jalan setapak yang biasa
digunakan untuk berburu” . Katanya

jaag, dari jagen, artinya “berburu” Pad, artinya “jalan
setapak” padahal, kata jaagpad tidak ada sangkut pautnya
dengan berburu, melainkan sebuah istilah dalam pelayaran
perahu. Pada alur sungai atau terusan yang dangkal, perahu
yang melaluinya baru dapat bergerak maju, kalo ditarik. Pada
jaman Kompeni Belanda, bahkan beberapa dasawarsa sebelum
pelabuhan Tanjungpriuk dibuat, kapal – kapal (layar) yang
cukup besar bila berlabuh dipelabuhan Batavia, yang sekarang
menjadi Pelabuhan Sunda Kalapa, tidak merapat seperti

sekarang, melainkan biasa membuang sauh masih jauh dilaut
lepas.
Pengangkutan orang dan barang dari kapal biasa dilakukan
dengan perahu. Untuk mempermudah pendaratan, di sebelah rimur
Pelabuhan Sunda Kalapa sekarang dibuat terusan
khusus untuk perahu – perahu pendarat. Terutama di musim
hujan, terusan tersebut biasa menjadi dangkal, dipenuhi
lumpur dari darat bercampur pasir dari laut sehingga perahu
kecil pun sulit melewatinya. Apalagi perahu besar,

berlunas lebar, sarat muatan, agar bisa bergerak maju harus
dihela beberapa kuda atau sejumlah orang yang berjalan di
depan perahu, sebelah kiri dan kanan terusan.

Terusan tersebut diuruk pada abad ke- 19, sehingga sekarang
sulit untuk melacaknya. Yang tersisa hanya sebutannya jaagpad
yang berubah menjadi japat, sebagai nama dari kawasan
tersebut.

Jatinegara

Jatinegara dewasa ini menjadi nama sebuah Kecamatan. Kecamatan
Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur, salah satu pusat Kota
Jakarta yang multipusat itu.

Nama Jatinehara baru muncul pada kawasan tersebut, sejak tahun
1942, yaitu pada awal masa pemerintahan pendudukan
balatentara Jepang di Indonesia, sebagai pengganti nama
Meester Cornelis yang berbau Belanda.

Sebutan Meester Cornelis mulai muncul ke pentas sejarah Kota
Jakarta pada pertengahan abad ke-17, dengan diberikannya izin
pembukaan hutan dikawasan itu kepada Cornelis Senen adalah
seorang guru agama Kristen, berasal dari Lontor, pulau Banda.
Setelah tanah tumpah – darahnya dikuasai sepenuhnya oleh
kompeni, pada tahun 1621 Senen mulai bermukim di Batavia,
ditempatkan di kampung Bandan. Dengan tekun ia mempelajari
agama Kristen sehingga kemudian mampu mengajarkannya kepada
kaum sesukunya. Dia dikenal mampu berkhotbah baik dalam
bahasa Melayu maupun dalam bahasa Portugis (kreol) Sebagai
guru, ia biasa dipanggil mester, yang berarti “tuan guru”.
Hutan yang dibukanya juga dikenal dengan sebutan Mester
Cornelis, yang oleh orang – orang pribumi biasa disingkat
menjadi Mester. Bahkan sampai dewasa ini nama itu nampaknya
masih umum digunakan oleh penduduk Jakarta, termasuk oleh
para pengemudi angkot
(angkutan kota).

Kawasan hutan yang dibuka oleh Mester Cornelis Senen itu
lambat laun berkembang menjadi satelit Kota Batavia. Dalam
rangka pelaksanaan otonomi daerah oleh Pemerintah Hindia
Belanda dibentuklah Pemerintahan Gemeente (kotapraja) Meester
Cornelis, bersamaan dengan dibentuknya Gemeente Batavia.

Kemudian, mulai tanggal 1 Januari 1936 Gemeente Meester
Cornelis digabungkan

dengan Gemeente Batavia.

Disamping kedudukannya sebagai gemeente, pada tahun 1924
Meester Cornelis dijadikan nama kabupaten, Kabupaten Meester
Cornelis, yang terbagi menjadi 4

kewedanaan, yaitu Kewedanaan Meester Cornelis, Kebayoran,
Bekasi, dan Cikarang (Kolonial Tidschrifft, Maart 1933:1).

Pada jaman Jepang pemerintah pendudukan jepang, nama Meester
Cornelis diganti menjadi Jatinegara, bersetatus sebagai
sebuah Siku, setingkat kewedanaan, bersama – sama dengan
Penjaringan, Manggabesar, Tanjungpriuk, Tanahabang, Gambir,
dan Pasar Senen.

Ketika secara administrative Jakarta ditetapkan sebagai
Kotapraja Jakarta Raya, Jatinegara tidak lagi menjadi
kewedanaan, karena kewedanaan dipindahkan ke Matraman, dengan
sebutan Kewedanaan Matraman. Jatinegara menjadi salah satu
wilayah Kecamatan Pulogadung, Kewedanaan Matraman (The Liang
Gie 1958:144)

Jatinegara Kaum

Jatinegara Kaum dewasa ini menjadi sebuah kelurahan, Kelurahan
Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulogadung, Kotamadya Jakarta
Timur. Disebut Jatinegara Kaum, karena di sana terdapat kaum,
dalam hal ini rupanya kata kaum diambil dari bahasa Sunda,
yang berarti “tempat timggal penghulu agama beserta
bawahannya” (Satjadibrata, 1949:149). Sampai tahun tigapuluh
abad yang lalu,

penduduk Jatinegara Kaum umumnya berbahasa Sunda (Tideman
1933:10).

Dahulu Jatinegara Kaum merupakan bagian dari kawasan
Jatinegara yang meliputi hamper seluruh wilayah Kecamatan
Pulogadung sekarang. Bahkan di wilayah Kecamatan Cakung
sekarang, terdapat sebuah kelurahan yang bernama Jatinegara,
yaitu Kelurahan Jatinegara.

Dari mana asal nama Jatinegara serta kapan kawasan tersebut
bernama demikian, belum dapat dinyatakan dengan pasti. Yang
jelas nama kawasan tersebut baru disebut – sebut pada tahun
1665 dalam catatan harian (Dagh Register) Kastil Batavia,
waktu diserahkan kepada Pangeran Purbaya beserta para
pengikutnya. Pangeran Purbaya adalah salah seorang putra
Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Banten yang digulingkan dari
tahtanya oleh putranya sendiri, Sultan Haji, dengan bantuan
kompeni Belanda pada tahun 1682. Setelah tertawan, Pangeran
Purbaya beserta saudara – saudaranya yang lain, seperti
Pangeran Sake dan Pangeran Sangiang, ditempatkan di dalam
benteng Batavia. Kemudian , ditugaskan untuk memimpin para
pengikutnya, yang ditempatkan dibeberapa tempat, seperti
Kebantenan, Jatinegara, Cikeas, Citeurep, Ciluwar, dan
Cikalong.

Orang – orang Banten yang bermukim di Jatinegara, awalnya
dipimpin oleh Pangeran Sangiang. Karena dianggap terlibat
dalam pemberontakan Kapten Jonker, kekuasaan Pangeran
Sangiang di Jatinegara ditarik kembali, dan pada tahun 1680
diserahkan kepada Kiai Aria Surawinata, mantan bupati Sampora,
kesultanan Banten (T.B.G. XXX:138) yang setelah menyerah
kepada kompeni diangkat menjadi Letnan, di bawah Pangeran
Sangiang. Sampai tahun 1689.Surawinata masih bermukim di
Luarbatang . Setelah Kiai Aria Surawinata wafat, berdasarkan
putusan Pimpinan Kompeni Belanda di Batavia tertanggal 27

Oktober 1699, sebagai penggantinya adalah putranya, Mas
Muhammad yang Panca wafat, sebagai penggantinya ditunjuk
salah seorang putranya, Mas Ahmad. Pada

waktu para bupati Kompeni diwajibkan untuk menanam kopi di
wilayahnya masing – masing, penyerahan hasil pertanian itu
dari tahun 1721 sampai dengan tahun 1723. tercatat atas nama
Mas Panca. Baru pada tahun 1724 tercatat atas nama Mas Ahmad.
Pada tahun 1740 rupanya Mas Ahmad masih menjadi bupati
Jatinegara atas nama Mas Ahmad berjumlah 2.372,5 pikul,
kurang lebih 14.650 kg.

Kebantenan

Kawasan Kebantenan, atau kebantenan, dewasa ini termasuk
wilayah Kelurahan Semper Timur, Kecamatan Cilincing,
Kotamadya Jakarta Utara.

Dikenal dengan sebutan Kebantenan, karena kawasan itu sejak
tahun 1685 dijadikan salah satu tempat pemukiman orang –
orang Banten, dibawah pimpinan

Pangeran Purbaya, salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa.
Tentang keberadaan orang – orang Banten dikawasan tersebut,
sekilas dapat diterangkan sebagai berikut.

Setelah Sultan Haji (Abu Nasir Abdul Qohar ) mendapat bantuan
kompeni yang antara lain melibatkan Kapten Jonker, Sultan
Ageng Tirtayasa terdesak, sampai terpaksa meninggalkan
Banten, bersama keluarga dan abdi – abdinya yang masih setia
kepadanya. Mereka berpencar, tetapi kemudian terpaksa mereka
menyerahkan diri, Sultan Ageng di sekitar Ciampea, Pangeran
Purbaya di Cikalong kepada Letnan Untung (Untung Surapati).

Di Batavia awalnya mereka ditempatkan didalam lingkungan
benteng. Kemudian Pangeran Purbaya beserta keluarga dan abdi
– abdinya diberi tempat pemukiman, yaitu di Kebantenan,
Jatinegara, Condet, Citeureup, dan Cikalong.

Karena dituduh terlibat dalam gerakan Kapten Jonker, Pangeran
Purbaya dan adiknya. Pangeran Sake, pada tanggal 4 Mei 1716
diberangkatkan ke Srilangka,

sebagai orang buangan. Baru pada tahun 1730 kedua kakak
beradik itu diizinkan kembali ke Batavia. Pangeran Purbaya
meninggal dunia di Batavia tanggal 18 Maret 1732.

Perlu dikemukakan, bahwa disamping Kabantenan di Jakarta Utara
itu, ada pula

Kabantenan yang terletak antara Cikeas dengan Kali Sunter,
sebelah tenggara Jatinegara, atau sebelah barat daya Kota
Bekasi. Di salah satu rumah tempat kediaman Pangeran Purbaya
yang berada di barat daya Bekasi itu ditemukan lima buah
prasasti berhuruf Sunda kuno, peninggalan jaman kerajaan
Sunda, yang ternyata dapat sedikit membuka tabir kegelapan
sejarah Jawa Barat.

Kampung Ambon

Merupakan penyebutan nama tempat yang ada di Rawamangun,
Jakarta Timur. Nama

ini sudah ada sejak tahun 1619. Pada waktu itu JP. Coen
sebagai Gubernur Jenderal VOC menghadapi persaingan dagang
dengan Inggris. Untuk memperkuat angkatan perang VOC, Coen
pergi ke Ambon mencari bantuan dengan menambah pasukan dari
masyarakat Ambon. Pasukan Ambon yang dibawa Coen dimukimkan
orang Ambon itu lalu kita kenal sebagai kampung Ambon,
terletak di daerah Rawamangun, Jakarta Timur.

Kampung Bali

Di wilayah Propinsi DKI Jakarta terdapat beberapa kampung yang
menyandang nama Kampung Bali, karena pada abad ketujuhbelas
atau kedelapanbelas dijadikan pemukiman orang – orang Bali,
yang masing – masing dipimpin kelompok etnisnya. Untuk
membedakan satu sama lainnya, dewasa ini biasa dilengkapi
dengan nama kawasan tertentu yang berdekatan, yang cukup
banyak dikenal. Seperti Kampung Bali dekat Jatinegara yang
dulu bernama Meester Corornelis, disebut Balimester,
Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur.

Balimester tercatat sebagai perkampungan orang – orang Bali
sejak tahun 1667.

Kampung Bali Krukut, terletak di sebelah barat Jalan Gajahmada
sekarang yang

dahulu bernama Molenvliet West. Di sebelah selatan,
perkampungan itu berbatasan dengan tanah milik Gubernur
Reineir de Klerk (1777 – 1780), dimana dibangun sebuah gedung
peristirahatan, yang dewasa ini dijadikan Gedung Arsip
Nasional.

Kampung Bali Angke sekarang menjadi kelurahan Angke, Kecamatan
Tambora Jakarta Barat. Disana terdapat sebuah masjid tua,
yang menurut prasasti yang

terdapat di dalamnya, dibangun pada 25 Sya’ban 1174 atau 2
April 1761. Dihalaman depan masjid itu terdapat kuburan
antara lain makam Pangeran Syarif Hamid dari Pontianak yang
riwayat hidupnya ditulis di Koran Javabode tanggal 17 Juli
1858. Dewasa ini mesjid tersebut biasa disebut Masjid Al-
Anwar atau Masjid Angke.

Pada tahun 1709 di kawasan itu mulai pula bermukim orang –
orang Bali di bawah pimpinan Gusti Ketut Badulu, yang
pemukimannya berseberangan dengan pemukiman orang – orang
Bugis di sebelah utara Bacherachtsgrach, atau Jalan Pangeran
Tubagus Angke sekarang . Perkumpulan itu dahulu dikenal dengan
sebutan Kampung Gusti (Bahan: De Haan 1935,(I), (II):Van
Diesen 1989).

Kampung Bandan

Merupakan penyebutan nama Kampung yang berada dekat pelabuhan
Sunda Kelapa atau masih dalam Kawasan Kota Lama Jakarta
(Batavia) Berdasarkan informasi yang dapat dikumpulkan
terdapat beberapa versi asal – usul nama Kampung Bandan.

1-Bandan berasal dari kata Banda yang berarti nama pulau yang
ada di daerah Maluku. Kemungkinan besar pada masa lalu (
periode kota Batavia) daerah ini pernah dihuni oleh
masyarakat yang berasal dari Banda. Penyebutan ini sangatlah
lazim karena untuk kasus lain ada kemiripannya, seperti
penyebutan

nama kampung Cina disebut Pecinan. Tempat memungut pajak atau
cukai (bea) disebut Pabean dan Pekojan sebagai perkampungan
orang Koja (arab), dan lain – lain.

2-Banda berasal dari kata Banda ( bahasa Jawa) yang berarti
ikatan Kata Banda dengan tambahan awalan di (dibanda)
mempunyai arti pasif yaitu diikat.

Hal ini dapat dihubungkan dengan adanya peristiwa yang sering
dilihat masyarakat pada periode Jepang, yaitu pasukan Jepang
membaw pemberontak dengan tangan terikat melewati kampung ini
menuju Ancol untuk dilakukan eksekusi bagi pemberontak
tersebut.

3-Banda merupakan perubahan ucapan dari kataPandan. Pada masa
lalu di kampung ini banyak tumbuh pohon, sehingga masyarakat
menyebutnya dengan nama Kampung Pandan.


Responses

  1. nice info, thanks yah udah mampir


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: